Like Fanpage Bang Syaiha

Menilai Sebuah Tulisan

By Bang Syaiha | Sunday, 24 September 2017 | Kategori: |


Dulu, ketika saya hendak mengikutkan naskah novel Sepotong Diam pada sebuah lomba, terlebih dahulu saya berikan naskah tersebut ke seorang teman dan berkata seperti ini, "Bro, tolong Elu baca ya. Setelah itu, Elu kasih penilaian deh ke naskah gue ini." 

Teman saya itu, yang karir literasinya bahkan barangkali nggak lulus TK, kemudian cengo'. Mungkin dalam hatinya berujar begini, "Mimpi ape gue semalem dikasih naskah setebel ini? Apa Syaiha nggak tahu kalau membaca adalah kegiatan yang nggak ade di dalam list yang harus gue kerjain?" 

Melihat raut wajahnya yang entah seperti apa itu, saya paham, makanya saya kemudian bilang, "Elu tinggal baca aja sebagian. Nggak perlu semua, kok. Setelah Elu baca, kasih tau gue dan kasih saran. Apa yang harus gue perbaiki." 

"Gue kan nggak suka baca, bro!" 

"Justru karena Elu nggak suka baca itulah, maka kalau gue bisa ngebuat Elu suka sama ini tulisan, berarti tulisan gue bagus. Tapi kalau Elu nggak suka, ya kemungkinan besar orang lain juga nggak akan suka." 

"Tapi apa yang harus gue nilai, bro? Gue buta banget sama masalah tulis-menulis! Gimane gue mau menilai kalau gue aje nggak paham same yang beginian!" dia masih bertanya bingung. 

"Gini deh, gue jelasin pakai analogi aje ye..." saya berkata demikian sambil menepuk bahunya, "Anggap aja tulisan ini adalah masakan, hidangan, makanan di restoran. Nah, kalau Elu ke restoran, Elu makan disana, Elu boleh nggak bilang itu makanan enak atau nggak enak? Elu bisa nggak ngebedain oh makanan ini enak atau oh makanan ini nggak enak?" 

"Kalau itu gue bisa." 

"Padahal Elu kan nggak paham ilmu tentang makanan. Elu bukan chef yang tahu seluk-beluk masak-memasak. Tapi Elu bisa kan ngasih penilaian itu makanan enak atau nggak?" 

"Ya bisa lah, namanya juga makanan." 

"Sama aja. Tulisan gue juga. Elu cukup baca aja sambil dihayati sebisanya, nikmati semampunya. Kalau udah Elu baca dengan baik, Elu juga pasti bakal bisa bilang tulisan gue gimana. Jujur aja. Kalau tulisan gue nggak bagus, ya bilang aja nggak bagus. Kurangnya dimana. Lebihnya dimana. Apa yang harus gue tambah. Apa yang harus gue kurang." 

"Gitu ya?" dia berkata demikian, entah mengerti atau tidak. 

"Iya, gitu aja kok..." saya menjelaskan, "untuk bisa berkata tulisan ini bagus atau tidak, nggak perlu orang yang ahli literasi kok bro. Siapapun boleh nilai tulisan gue." 

"Ntar nggak objektif dong hasilnya?" 

"Penilaian seseorang pada sebuah karya seni, termasuk tulisan, memang nggak akan objektif. Nilainya subjektif. Karena hal inilah, maka sering gue bilang, bagusnya sebuah tulisan itu relatif. Si A bilang tulisan gue bagus, tapi si B paling nganggap tulisan gue biasa aja. Nggak masalah. Toh, kita nggak bisa menyenangkan semua orang, toh?" 

"Iya deh..." 

"Iya apaan?" 

"Ya ini, gue bakal baca tulisan Elu dan nanti gue kasih penilaian ya! Tapi awas, jangan marah kalau gue bakalan jujur." 

"Siap, nggak masalah." 

6 komentar

avatar

Bener juga, ya. Bagus banget bang...

avatar

Noted : "Kita nggak bisa menyenangkan semua orang."
Iya Bang, jadi kita ga perlu takut ya kalo ada orang yang menilai tulisan kita jelek, kan bagus-nggaknya tulisan itu relatif.
Setelah kemarin minder karena bacaan temen2 yg lain pada bagus, sekarang jadi semangat lagi. 😄

avatar

good idea. keren selaluuuu :)

avatar

Makasih sudah mampir ya, mas...

avatar

Jika dibandingkan, tulisan saya juga biasa aja kan mbak... Jadi ya santai aja... Hahaha...
Semangat menulis, mbak...

avatar

Terimakasih sudah mampir, mbak...


EmoticonEmoticon