Like Fanpage Bang Syaiha

Bahagianya Membahagiakan Dia

By Bang Syaiha | Friday, 9 March 2018 | Kategori:

Bahagianya seorang ayah

Bang Alif, anak saya, punya mainan baru: sebuah miniatur mobil-mobilan yang ciamik. Elegan sekali dilihatnya. Jika sudah demikian, bukan hanya dia saja yang bakalan suka, tapi juga saya. Palingan, nanti kami rebutan pengen mainin tuh mobil yang bukan sungguhan. Rebutan, atau berganti-gantian. Salah kah? Nggak dong. Walau sudah bapak-bapak begini, saya juga demen sama mainan seperti yang Bang Alif pegang-pegang beberapa hari belakangan. 

Mobil-mobilan Bang Alif yang baru adalah miniatur Range Rover berwarna putih dengan kedua pintu depan yang bisa dibuka. Cuma, jika mobil sungguhan di Indonesia, letak pengemudi ada di kanan depan, yang ini adanya di kiri depan. Seperti mobil sungguhan di negara sana. Bukan masalah besar bagi anak saya yang belum paham akan hal itu. Dia nggak protes, kok. Nggak bertanya-tanya juga, "Abi kenapa kursi sopirnya ada di sebelah kiri ya?" 

Belum. 

Mainan yang baru datang ini adalah koleksi kesekiannya Bang Alif. Sebelum-sebelumnya, ia sudah memiliki Lamborghini, mobil Tanki, mobil Kodok berwarna kuning, Truk, dan sebagainya. Semuanya sama, dibuat dengan tangan-tangan terbaik sehingga hasilnya menakjubkan. Detailnya mantap. 

Dan setiap datang yang baru, Bang Alif selalu antusias sampai-sampai tuh mobilan barunya dibawa tidur, digenggam, tidak mau dilepas. Lalu kemudian, terkadang, di tengah pulasnya, dia tersenyum senang. 

Nyessss rasanya...

Adem, seperti bara api yang tersiram air es. Langsung padam dan dingin, sejuk. Beneran! Bagi yang sudah menikah dan punya anak, pasti tahu akan hal ini, bahwa, tidak ada kebahagian tertinggi bagi seorang ayah, kecuali kebahagiaan karena dia bisa menyenangkan buah hatinya, membuat anaknya tersenyum riang tanpa cela. 

Karena hal inilah, saya selalu bilang ke istri, "Selagi kita mampu dan tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga, maka belikan saja. Yang penting itu baik, mendukung perkembangan otak, fisik, dan kreativitas, maka nggak ada salahnya."

Karena apa? Karena saya nggak mau anak saya seperti saya. Yang ketika masa kecilnya tidak sebebas dia. Lah! Apa yang bisa diharapkan dari bapak mamak saya dulu? Keuangan keluarga begitu terbatas, jangankan buat beli mainan, buat beli makan sehari-hari saja harus ngirit bukan main. 

Akibatnya, saya sering gigit jari ketika teman-teman saya punya mainan baru dan memainkannya di depan saya. Tapi, saya sebenarnya juga masih beruntung, karena semua teman-teman saya tidak pelit. Mereka masih mau sekedar meminjamkan dan mengijinkan saya membawa mainan mereka ke rumah barang semalam dua malam. Karena hal inilah maka keinginan saya untuk punya mainan bisa sedikit terobati. 

Tapi tetap saja berbeda, meminjam dan memiliki. 

Sekarang, ketika sudah menjadi orangtua, saya selalu bertekad membahagiakan anak dan istri saya. Semampunya. Saya selalu mendukung mereka, selama itu baik, sejalan dengan tumbuh kembang otak dan fisik. Saya tak akan sayang-sayang uang. Ia bisa dicari lagi. 

Yang penting satu, ketika sudah sampai pada wilayah seperti hendak memanjakan, maka berhenti. Menyenangkan anak tetap ada batasannya. Sesuai kemampuan dan tidak membuatnya manja. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon